in ,

Jangan Asal Beli! Kenali Dulu Plus-Minus Samsung Galaxy A18 4G Sebelum Bungkus

GmxArena – Ada dua jenis ponsel Samsung: yang selalu jadi berita, dan yang diam-diam jadi tulang punggung penjualan. Galaxy A18 4G masuk kategori kedua. Saya memakainya beberapa hari, dan kesan pertamanya justru membingungkan. Bukan karena ponselnya buruk, tapi karena harga yang dimintanya.

Dari sisi desain, tidak ada kejutan. Rangka plastik dengan permukaan matte yang menyerupai logam, notch tetesan air di atas layar, dan pulau kamera vertikal di punggung. Bagian rangka yang menonjol di sisi kanan menampung tombol daya dan tombol volume, ciri khas keluarga Galaxy A. Sensor sidik jari kapasitif di tombol daya itu cepat dan akurat, belum sekali pun salah membaca jari saya.

Bobotnya 196 gram, sedikit lebih berat dari pendahulunya Galaxy A17 4G, tapi masih nyaman digenggam lama. Sertifikasi IP64 jadi peningkatan dibanding generasi sebelumnya, walau perlu dicatat dengan jelas: itu hanya perlindungan terhadap debu, bukan kemampuan menyelam ke air.

Layarnya panel Super AMOLED 6,7 inci dengan resolusi 1080 x 2340 piksel, kerapatan 385 ppi, dan refresh rate 90Hz. Saya menonton video satu jam penuh dan mata tidak lelah. Bezarnya memang tebal dan dagu bawah cukup mencolok, tapi untuk kelas harga ini panelnya menyenangkan dan warnanya pekat.

Soal kecerahan, hasil pengukuran lab menyebut sekitar 800 nits di mode otomatis pada pola 75 persen, dan naik ke 1.100 nits saat diukur pada pola 10 persen. Angka itu cukup untuk dipakai di luar ruangan, meski bukan yang paling terang di kelasnya. Kecerahan terendahnya terukur 1,8 nits, jadi nyaman dipakai di kamar gelap sebelum tidur.

Perubahan paling menarik ada di dapur pacu. Samsung mengganti MediaTek Helio G99 dengan Exynos 1610, chip yang untuk sementara ini eksklusif untuk A18 4G. Di GeekBench 6, skor single-core-nya 953. Untuk membuka Instagram, WhatsApp, aplikasi perbankan, dan sesekali YouTube, kemampuan itu memadai. Tapi jangan berharap lebih, karena chip ini bukan kelas gaming.

Masalahnya bukan di chip, melainkan di RAM. Semua varian A18 4G hanya membawa 4GB RAM. Saat berpindah antar aplikasi, beberapa kali saya melihat aplikasi dimuat ulang dari awal. Samsung menjanjikan hingga enam pembaruan OS besar untuk ponsel ini, dan kombinasi RAM 4GB dengan versi Android masa depan yang makin berat jelas bukan resep yang menenangkan.

Ada satu keanehan yang menarik: pada pengujian 3DMark, Exynos 1610 mencetak skor lebih dari dua kali lipat Exynos 1280 dengan konfigurasi GPU yang kurang lebih sama. Penguji independen mengaku sudah memeriksa ulang hasil itu dan menduga kuat angka tersebut sebuah kebetulan pengujian, bukan lompatan performa nyata. Anggap saja bonus kecil yang jangan dijadikan alasan membeli.

Baterainya 5.000 mAh dengan pengisian 25W, dan di sini Samsung memakai standar USB Power Delivery plus PPS, jadi kabel Type-C 3A biasa sudah cukup tanpa charger khusus. Skor pemakaian aktifnya 13 jam 9 menit. Dipakai kerja seharian, chatting, dan sesekali main game ringan, baterainya masih menyisakan tenaga saat malam tiba. Suhu bodinya juga tetap hangat, tidak pernah panas berlebihan.

Speakernya mono, tapi kencang. Saya mendengarkan podcast di dapur dengan volume 70 persen dan suaranya masih jelas. Yang hilang justru hal-hal yang dulu dianggap standar: tidak ada speaker stereo, dan tidak ada jack audio 3,5 mm. Kabar baiknya, slot microSD masih tersedia, dan fitur ini makin langka di ponsel zaman sekarang.

A18 4G langsung menjalankan One UI 9 di atas Android 17, dan ini paket perangkat lunak yang lebih baru dibanding Galaxy A17 yang lahir dengan Android 15. Sayangnya, Galaxy AI tidak ada di perangkat ini. Bixby juga tidak muncul, begitu pula Now Brief dan fitur pengeditan AI di aplikasi galeri. Secara teknis hal itu masuk akal karena model AI lokal butuh RAM besar, tapi tetap terasa seperti Samsung menahan banyak hal di harga ini.

Kamera utamanya 50MP dengan sensor berukuran 1/2,76 inci, ditemani ultrawide 5MP dan makro 2MP yang saya pakai sekali lalu saya lupakan. Foto siang hari hasilnya layak: dynamic range baik, white balance akurat, dan detail cukup. Begitu masuk ruangan redup, ketajaman dan saturasinya turun cepat. Zoom 2x hasilnya kasar karena hanya hasil pemotongan, dan rekaman video mentok di 1080p 30fps dengan stabilisasi yang tidak terlalu efektif.

Kamera depannya 13MP dengan fokus tetap, dan hasil swafotonya termasuk bagus untuk kelas ini. Warna kulit tampil natural tanpa proses berlebihan, cukup untuk kebutuhan video call dan unggahan media sosial.

Di sinilah masalah sebenarnya muncul. Varian 128GB dengan RAM 4GB dijual sekitar 280 euro atau sekitar Rp5,04 juta dengan asumsi kurs Rp18.000 per euro, sedangkan varian 256GB melonjak ke 450 euro atau sekitar Rp8,1 juta, dan tetap dengan RAM 4GB. Harga segitu sudah bersinggungan dengan Galaxy A37 yang layarnya lebih terang, refresh rate 120Hz, dan punya speaker stereo.

Jadi, siapa yang cocok memakai Galaxy A18 4G? Menurut saya, ponsel ini pas untuk pengguna yang butuh ponsel pendamping kerja, atau orang tua yang menginginkan antarmuka Samsung sederhana dengan dukungan pembaruan panjang. Bodi kokoh, layar enak, baterai andal, ada slot microSD, dan janji enam pembaruan OS adalah nilai jual yang nyata.

Tapi kalau Anda membeli dengan uang sendiri dan bisa menunggu, sebaiknya tunggu diskon atau pertimbangkan model lain di rentang harga yang sama. A18 4G bukan ponsel yang salah; pasar di sekitarnya yang membuat rekomendasi ini jadi rumit.

Spesifikasi Galaxy A18 4G
Layar 6,7 inci Super AMOLED, 1.080 x 2.340 piksel (385 ppi, 19,5:9), 90Hz
Chipset Samsung Exynos 1610
RAM dan penyimpanan 4GB RAM, 128GB atau 256GB, slot microSD tersedia
Kamera belakang 50MP utama (1/2,76 inci) + 5MP ultrawide + 2MP makro
Kamera depan 13MP, fokus tetap
Baterai dan pengisian 5.000 mAh, pengisian 25W (USB PD + PPS)
Bobot 196 gram
Ketahanan IP64 (perlindungan debu)
Audio Speaker mono, tanpa jack audio 3,5 mm
Perangkat lunak Android 17 dengan One UI 9, hingga enam pembaruan OS besar, tanpa Galaxy AI dan Bixby
Video Maksimal 1080p 30fps
Harga Sekitar 280 euro untuk 128GB (Rp5,04 juta) dan 450 euro untuk 256GB (Rp8,1 juta), kurs Rp18.000 per euro

 

Written by Adi Kusuma