in ,

Siap Saingi Spotify, YouTube Dikabarkan Bakal Hadirkan Layanan Audiobook via Langganan Premium

GmxArena – YouTube sedang menjajaki bisnis baru yang cukup jauh dari video: buku audio atau audiobook. Kabar ini datang dari laporan media keuangan Amerika Serikat yang menyebut YouTube tengah bernegosiasi dengan sejumlah penerbit buku untuk menghadirkan layanan tersebut.

Menurut laporan itu, pengumuman resminya bisa keluar pada tahun depan. Sampai berita ini diturunkan, Google belum memberikan komentar resmi soal rencana tersebut, sehingga detail seperti jumlah judul yang tersedia dan tanggal peluncuran masih belum bisa dipastikan.

Cara YouTube masuk ke pasar ini berbeda dari pendekatan Google selama ini. Toko aplikasi Google Play sudah menjual audiobook sejak 2018, tapi modelnya beli satuan: Anda membayar per judul dan tidak ada langganan bulanan. YouTube disebut memilih arah sebaliknya.

Rencananya, akses audiobook digabungkan ke langganan Premium yang bebas iklan. Artinya, selama berlangganan, pendengar tidak perlu membeli buku satu per satu. Strategi ini sekaligus menambah nilai Premium di mata pengguna, terutama dibanding paket Premium Lite yang harganya lebih murah.

Langkah itu juga masuk akal jika melihat riwayat harga. Setelah beberapa kali kenaikan tarif langganan yang sempat membuat sebagian pengguna mengeluh, menambahkan audiobook bisa menjadi cara YouTube menunjukkan bahwa uang langganan mereka masih sepadan.

Sebetulnya YouTube bukan pendatang baru di konten audio. Layanan podcast sudah hadir di YouTube Music sejak 2023, dan bisa didengarkan secara daring maupun luring bagi pelanggan Premium tanpa gangguan iklan. Paket Premium Lite memang tidak mencakup musik, tapi tetap menyediakan pemutaran podcast bebas iklan.

Kalau rencana ini benar-benar berjalan, YouTube akan berhadapan langsung dengan Spotify. Layanan streaming asal Swedia itu sudah meluncurkan paket khusus audiobook beberapa tahun lalu, dan pada tahun ini memperluas layanannya ke lebih dari 180 pasar di seluruh dunia.

Spotify juga punya satu fitur yang cukup pintar bernama Page Match. Kalau Anda mulai membaca buku fisik lalu ingin melanjutkan lewat audio, cukup memotret halaman yang sedang dibaca dan aplikasi akan otomatis memutar audiobook dari titik tersebut. Fitur semacam ini jadi pembeda yang sulit ditiru pesaing yang hanya menyediakan daftar buku.

Tantangan terbesar YouTube justru ada di meja perundingan. Kesepakatan dengan penerbit menyangkut soal royalti, hak distribusi, dan model bagi hasil, dan hal itu biasanya memakan waktu. Belum ada informasi apakah buku audio yang nanti tersedia mencakup judul-judul populer atau hanya sebagian katalog penerbit.

Bagi pengguna di Indonesia, belum ada kepastian kapan layanan ini akan masuk. YouTube Premium memang sudah tersedia di Tanah Air, tapi katalog audiobook biasanya mengikuti kesepakatan hak cipta per wilayah. Jadi jangan berharap koleksi buku audio berbahasa Indonesia langsung lengkap pada hari peluncurannya.

Meski begitu, arah bisnisnya cukup jelas. Selama beberapa tahun terakhir, YouTube bergerak dari sekadar platform video menjadi layanan hiburan lengkap: musik, podcast, siaran langsung, dan kini bersiap menambah buku audio. Semua itu dibungkus dalam satu langganan yang sama.

Kalau rencana ini terealisasi, pengguna akan diuntungkan karena satu langganan bisa menutup lebih banyak kebutuhan. Sebaliknya, penulis dan penerbit perlu mencermati skema royaltinya, karena model bundling seperti ini biasanya menuntut perhitungan bagi hasil yang lebih rumit dibanding penjualan satuan.

Yang jelas, persaingan di pasar audio digital kembali memanas. Setelah Spotify lebih dulu menggarap audiobook, kini YouTube menyiapkan langkah serupa, dan pengguna tinggal menunggu siapa yang lebih dulu menyediakan katalog yang benar-benar lengkap.

Written by Budi Pratama