Gmxarena – Pertama kali saya mengangkat Galaxy Tab S12 Ultra dari kotaknya, tangan saya langsung protes. Bobotnya 695 gram dengan bodi setebal 5,1 mm, tapi bentang layarnya 14,6 inci. Itu lebih luas dari laptop 14 inci yang biasa saya pakai menulis setiap hari.
Begitu layarnya menyala, protes itu berubah jadi kagum. Panel Dynamic AMOLED 2X beresolusi 1.848 x 2.960 piksel dengan kerapatan 239 ppi dan rasio 16:10 ini termasuk yang paling nyaman saya pakai. Di meja teras saat matahari terik, mode kecerahan otomatis menyentuh 1.031 nits, dan pada pola putih 10 persen kecerahan puncaknya terukur 1.514 nits. Untuk ukuran tablet, angka itu luar biasa.
Ada satu catatan soal kecerahan. Kalau opsi Extra Brightness dimatikan, panel ini hanya sanggup 437 nits. Dengan Extra Brightness menyala, kecerahan manualnya naik ke 708 nits. Jadi kalau Anda sering bekerja dekat jendela, biarkan fitur itu aktif dan jangan biarkan mode hemat daya mematikannya.
Yang bikin layarnya terasa hidup justru rentang refresh rate-nya. Saat menampilkan teks statis, panel turun sampai 1Hz, lalu melompat ke 120Hz begitu saya menggulir atau membuka aplikasi. Hasilnya baterai lebih hemat tanpa mengorbankan kehalusan gerakan, dan mata terasa lebih santai dibaca berlama-lama.

Sayangnya Samsung masih mempertahankan notch kecil di bagian atas layar untuk kamera depan. Ukurannya memang mungil dan tidak separah notch laptop, tapi begitu layar menampilkan konten gelap penuh, lubang itu jadi satu-satunya hal yang bisa saya lihat. Ini satu-satunya cacat estetika di perangkat yang harganya tidak murah.
Bodinya dibangun dari Armor Aluminum, material yang sama seperti di jajaran Galaxy S, dan sudah bersertifikat IP68. Kombinasi itu langka di dunia tablet. Saya membawanya ke meja makan dan dekat wastafel tanpa rasa cemas. Sensor sidik jari optik di dalam layar juga cepat dan akurat, belum sekali pun gagal membaca jari saya.
Memegang tablet sebesar ini untuk membaca sambil berbaring memang tidak nyaman. Tapi begitu saya dudukkan di meja bersama keyboard resminya, semuanya berubah.
Keyboard Pro yang saya terima untuk pengujian ini jadi salah satu aksesori paling menyenangkan yang saya coba tahun ini. Fungsinya ganda sebagai penutup layar, tersambung lewat pin magnetik di punggung tablet, dan menyulap perangkat ini jadi laptop tipis. Tanpa aksesori itu, separuh pesona Tab S12 Ultra hilang.
Dapur pacunya MediaTek Dimensity 9500, chip 3nm dengan satu inti C1-Ultra 4,21GHz, tiga inti C1-Premium 3,5GHz, dan empat inti C1-Pro 2,7GHz, ditambah GPU Arm G1-Ultra serta NPU 990. Hasil pengujiannya: AnTuTu v11 menembus 2.701.483, GeekBench 6 single-core 3.133, dan 3DMark Wild Life Extreme 6.948. Samsung juga menyematkan vapor chamber besar untuk menjaga suhu saat dipakai kerja berat.
Sebagai pembanding, tablet dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5 masih unggul, dengan skor AnTuTu hampir 3,57 juta. Tapi selisih itu tidak terasa di pemakaian harian. Saya isi desktop DeX dengan belasan aplikasi dan dua jendela streaming sekaligus, dan tidak ada satu pun yang tersendat.
Tablet ini menjalankan Android 17 dengan One UI 9, dan dua mode utamanya, tablet serta DeX, sama-sama dioptimalkan untuk layar lebar. Yang paling sering saya pakai adalah Now Brief dengan kartu kustom, Call Brief yang mendengarkan panggilan lalu memunculkan informasi relevan di layar, serta widget Bixby yang kini terhubung ke Perplexity. Perlu dicatat, kartu kustom Now Brief dibatasi tiga buah dengan sumber seputar cuaca, kesehatan, dan video.
S Pen tetap disertakan di dalam kotak, dan ini pembeda besar dibanding tablet lain. Begitu pena dikeluarkan, menu pintas muncul berisi Drawing Assist, AI select, Create Note, Screen Write, sampai Penup. Creative Studio juga menarik untuk mengubah coretan tangan jadi gambar yang lebih rapi tanpa aplikasi tambahan.
Baterainya berkapasitas 11.600 mAh dan hasil ujinya persis sama dengan pendahulunya yang jadi juara kelas, yaitu 13 jam 23 menit untuk pemakaian aktif. Pengisian 45W membawa baterai dari 1 persen ke 21 persen dalam 15 menit, 41 persen di menit ke-30, dan penuh dalam 84 menit. Untuk baterai sebesar ini, angka tersebut tergolong cepat.
Satu hal yang menyebalkan, adaptor charger tidak ada di dalam kotak. Isinya hanya tablet, kabel USB-C 3A, dan S Pen. Jadi siapkan adaptor 45W sendiri kalau tidak mau menunggu pengisian memakai charger ponsel lama.
Sektor kamera bukan alasan membeli tablet ini. Modulnya 13MP utama plus 8MP ultrawide, dengan kamera depan 12MP ultrawide. Foto siang hari warnanya bagus dan dynamic range-nya lebar, meski detailnya rata-rata. Perekaman video 4K hanya tersedia di kamera utama dan depan, sementara ultrawide berhenti di 1080p.
Jadi, layak dibeli atau tidak? Dengan harga mulai 1.539 euro, atau sekitar Rp27,7 juta dengan asumsi kurs Rp18.000 per euro, untuk varian 256GB Wi-Fi, Tab S12 Ultra jelas bukan pembelian impulsif. Anda membayar untuk satu perangkat yang bisa dipakai menggambar, mengetik, mengedit video, dan menonton dengan kualitas layar yang sulit disaingi.
Tapi jangan berharap perangkat ini menggantikan laptop kerja sepenuhnya. Android dengan DeX masih setengah jalan dibanding Windows atau macOS ketika aplikasi berat menuntut kompatibilitas penuh dan pengelolaan file yang rumit. Tablet ini serbaguna, bukan pengganti total.
| Spesifikasi | Galaxy Tab S12 Ultra |
|---|---|
| Layar | 14,6 inci Dynamic AMOLED 2X, 1.848 x 2.960 piksel (239 ppi, 16:10), 120Hz, HDR10+ |
| Chipset | MediaTek Dimensity 9500 (3nm), CPU 1x C1-Ultra 4,21GHz + 3x C1-Premium 3,5GHz + 4x C1-Pro 2,7GHz, GPU Arm G1-Ultra, NPU 990 |
| RAM dan penyimpanan | 12GB/256GB, 12GB/512GB, 16GB/1TB (LPDDR5X, UFS 4.0) |
| Kamera belakang | 13MP utama + 8MP ultrawide |
| Kamera depan | 12MP ultrawide |
| Baterai dan pengisian | 11.600 mAh, pengisian kabel 45W, adaptor tidak termasuk |
| Dimensi dan bobot | 326,3 x 208,5 x 5,1 mm, 695 gram |
| Material dan ketahanan | Armor Aluminum, IP68 |
| Audio dan sensor | Empat speaker (4 kanal), fingerprint optik di layar |
| Perangkat lunak | Android 17, One UI 9, Samsung DeX |
| Aksesori kotak | Tablet, kabel USB-C 3A, S Pen |
| Harga | Mulai 1.539 euro (256GB Wi-Fi) atau sekitar Rp27,7 juta, kurs Rp18.000 per euro |
