GmxArena – SK Hynix dikabarkan sedang berdiskusi dengan Intel untuk memproduksi chip memori di Amerika Serikat untuk pertama kalinya. Laporan kantor berita Reuters yang mengutip tiga orang yang mengetahui pembicaraan tersebut menyebut ada dua opsi yang sedang dibahas. Opsi pertama, SK Hynix menyewa sebagian dari fasilitas pembuatan chip Intel di Ohio yang sudah lama direncanakan. Opsi kedua, keduanya membentuk perusahaan patungan yang juga melibatkan perusahaan komputasi awan besar yang ingin mengamankan pasokan memori mereka.
Pembicaraannya masih bersifat penjajakan dan belum ada keputusan apa pun yang dibuat. SK Hynix memberi pernyataan resmi bahwa perusahaan sedang mengeksplorasi berbagai opsi untuk memperkuat daya saing globalnya, namun belum ada rencana atau pengaturan spesifik yang final saat ini. Perusahaan juga menegaskan tidak ada keputusan yang dibuat terkait dua skenario yang disebut dalam laporan tersebut. Intel tidak langsung menanggapi permintaan komentar.
Saham kedua perusahaan bergerak naik setelah laporan itu terbit. Saham Intel naik sekitar 5 persen, sementara saham SK Hynix yang tercatat di Nasdaq naik sekitar 2 persen dan sahamnya di Seoul ditutup menguat sekitar 4 persen. Pergerakan sebesar itu untuk kabar yang belum final menunjukkan betapa pasar sedang menantikan tanda-tanda perluasan kapasitas memori AI.
Bagi Intel, sinyal ini penting. Perusahaan sedang mencari pelanggan besar untuk bisnis foundry-nya, yang menjadi salah satu pilar strategi CEO Lip-Bu Tan. Selama ini foundry Intel kesulitan menarik pelanggan besar karena kalah bersaing dari TSMC dalam hal rekam jejak produksi massal. Kehadiran pemain sekelas SK Hynix sebagai penyewa atau mitra akan menjadi referensi berharga bagi calon pelanggan lain.
Bagi SK Hynix, produksi di Amerika Serikat adalah langkah yang sudah lama tertunda. Perusahaan ini salah satu pemasok utama memori bandwidth tinggi atau HBM di dunia, komponen kunci pada chip-chip Nvidia. Namun sampai saat ini SK Hynix belum punya produksi memori front-end di Amerika Serikat, yaitu tahap di mana wafer diproses menjadi chip, bukan sekadar dikemas.
Membangun pabrik semikonduktor di Amerika Serikat jauh lebih mahal dibanding di Korea Selatan karena biaya tenaga kerja dan konstruksi yang lebih tinggi. Sebagian besar rantai pasok semikonduktor juga masih terkonsentrasi di Asia. Meski begitu, SK Hynix menghadapi tekanan yang meningkat dari pelanggan dan pemerintah untuk menambah produksi di Amerika Serikat.
Ketua SK Group, Chey Tae-won, pada Juli mengatakan perusahaan berada di bawah tekanan kuat dari pelanggan dan pemerintah untuk memasok lebih banyak chip, dan SK Hynix sebaiknya membangun pabrik di Amerika Serikat jika memungkinkan. Perusahaan juga baru menyelesaikan pencatatan sekunder di Nasdaq, langkah yang biasanya dipakai untuk mendekatkan diri ke investor Amerika sekaligus mempermudah pembiayaan ekspansi.
SK Hynix saat ini sedang membangun fasilitas pengemasan canggih dan riset untuk chip AI senilai US$3,8 miliar, atau sekitar Rp67,26 triliun dengan asumsi kurs Rp17.700/US$, di West Lafayette, Indiana. Produksi massalnya diharapkan mulai pada 2029. Pabrik itu akan memakai wafer DRAM yang dibuat di Korea Selatan, lalu mengemasnya menjadi chip HBM. Belum jelas jenis chip memori apa yang akan diproduksi di Ohio jika kesepakatan terwujud.
Sementara itu, bagi Intel, kesepakatan semacam ini bisa membantu meringankan tekanan keuangan seputar proyek Ohio yang tertunda. Intel mengumumkan pada 2022 rencana investasi hingga US$100 miliar, atau sekitar Rp1.770 triliun dengan asumsi kurs yang sama, untuk membangun kompleks pembuatan chip besar di Ohio. Namun produksi di dua fab yang direncanakan baru bisa dimulai pada 2030 dan 2031. Fasilitas menganggur selama bertahun-tahun adalah beban biaya yang tidak menghasilkan pendapatan.
Kementerian perdagangan Korea Selatan menyatakan keputusan produksi di Amerika Serikat sepenuhnya ada di tangan SK Hynix, tetapi proyek yang melibatkan teknologi inti nasional akan tunduk pada peninjauan berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Teknologi Industri. Aturan itu bisa menjadi faktor penentu, terutama jika yang dipindahkan adalah proses fabrikasi wafer terdepan.
Dari sisi Amerika Serikat, ketika kelangkaan chip global makin memburuk, pemerintahan Trump berupaya memperluas produksi di dalam negeri. Kalau kesepakatan tercapai, ada dua pihak yang jelas diuntungkan: Intel mendapat pelanggan besar untuk foundry-nya, dan Amerika Serikat mendapat tambahan kapasitas produksi memori di wilayahnya sendiri.
Untuk SK Hynix, memproduksi wafer di Amerika Serikat berarti mendekatkan diri ke pelanggan terbesar mereka, yaitu perusahaan komputasi awan dan pembuat akselerator AI, sekaligus mengurangi risiko tarif dan gangguan logistik lintas benua. Bagi pasar Indonesia, kabar ini belum berdampak langsung. Harga memori lebih ditentukan oleh keseimbangan pasokan dan permintaan global, dan keputusan investasi sebesar ini butuh bertahun-tahun sebelum menjadi kapasitas produksi nyata. Tapi arahnya sudah terlihat: memori kini diperlakukan sebagai komoditas strategis, dan peta produksinya sedang digambar ulang di luar Asia Timur.
