GmxArena – Menurut National Institute of Health (NIH), 73,1 persen orang dewasa di Amerika mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Angka yang cukup mengkhawatirkan. Namun berkat terobosan AI terbaru Google, ponsel pintar generasi berikutnya mungkin bisa memberikan informasi yang diperlukan untuk mulai membalik tren tersebut.
Google Research tengah mengembangkan PhotoScan, sistem yang mengubah kamera smartphone menjadi semacam laboratorium medis. Para peneliti melatih model AI ini menggunakan pemindaian X-ray berteknologi dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) dan MRI dari orang-orang sungguhan.

Pemindaian tersebut tidak hanya bisa menampilkan persentase lemak tubuh secara keseluruhan, tetapi juga mengukur rasio lemak inti terhadap lemak pinggang-kaki (rasio A/G) serta lemak organ terhadap lemak subkutan (rasio V/S).
Para peneliti kemudian menggabungkan hasil pemindaian ini dengan foto-foto dari kamera smartphone. Hasilnya, model tersebut mampu memperkirakan lemak tubuh secara visual dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan analisis impedansi bioelektrik (BIA). Artinya, PhotoScan mengukur lemak tubuh lewat kamera ponsel lebih akurat daripada jam tangan pintar dengan pemindai komposisi tubuh, seperti lini Galaxy Watch. Sistem ini juga sangat akurat memprediksi rasio A/G dan V/S, sesuatu yang tidak bisa dilakukan jam tangan pintar.
Kami menunjukkan kelayakan PhotoScan, sebuah pendekatan deep learning yang memperkirakan komposisi tubuh dari foto smartphone, untuk memprediksi resistensi insulin dengan akurasi sebanding pemindaian DXA di lingkungan penelitian klinis.
Demikian ungkap Cassie Zhou, Research Scientist, dan Ahmed Metwally, Staff Research Scientist, Google Research.
Langkah berikutnya, tim peneliti menguji apakah PhotoScan mampu memprediksi kondisi yang terkait dengan lemak tubuh serta rasio A/G dan V/S, seperti resistensi insulin. Tim memanfaatkan penelitian yang sudah ada untuk fitur Health Guardian di Pixel Watch 5 dan metrik baru bernama Insulin Resistance Trend.
Hasilnya cukup menjanjikan dan menawarkan cara non-invasif untuk memberi pengguna wawasan penting tentang kesehatan mereka. Satu-satunya masalah adalah meyakinkan orang agar mau memotret diri dengan pose yang kurang menarik dan membagikannya ke PhotoScan. Kendati begitu, cara ini tetap lebih baik daripada menusuk jari untuk tes darah atau harus pergi ke laboratorium.
Makalah penelitiannya bisa ditemukan di arsip ilmiah Arxiv.org serta blog resmi Google Research. Apa yang terjadi selanjutnya bergantung pada seberapa mudah sistem ini diimplementasikan sebagai produk komersial, entah sebagai aplikasi mandiri atau bagian dari Gemini maupun Google Health.
Potensinya jelas ada. Ponsel Pixel berikutnya bisa menjadi laboratorium medis di saku, menawarkan cara praktis untuk mendapatkan wawasan mendalam tentang kesehatan. Pertanyaan yang lebih besar adalah apa yang akan dilakukan orang dengan wawasan tersebut. Mengubah gaya hidup membutuhkan lebih dari sekadar memasang aplikasi dan memotret beberapa foto.
